Recent Posts

Gimana Pertumbuhan Industri Perfilman Indonesia Dikala Ini?

Filmnusantara.xyz - Indonesia yang diketahui bagaikan salah satu negeri dengan daerah terluas ini pastinya mempunyai jumlah masyarakat negeri yang sangatlah besar. Tercatat sampai dikala ini terdapat 264 juta masyarakat negeri Indonesia.

Perihal ini pastinya membagikan kemampuan yang sangat besar di zona sumber energi manusia yang dapat bawa dampak masif terhadap bermacam industri yang terdapat di Indonesia. Salah satunya merupakan industri perfilman.

Industri perfilman Indonesia pernah hadapi keadaan naik- turun, apalagi pernah hadapi titik terendah pada dekade 1990- an. Untungnya merambah tahun 2000, geliat perfilman Indonesia mulai menanjak pelan-pelan.

Film Petualangan Sherina, Jelangkung, serta Terdapat Apa Dengan Cinta? jadi 3 film yang membuat timbulnya harapan dari film-film Indonesia buat tahun-tahun mendatang. Serta segalanya mulai membaik semenjak dikala itu.

Dari film drama percintaan, film horror, sampai film action yang digarap dengan sungguh-sungguh terus menjadi menjadikan perfilman Indonesia kokoh di para para pemirsa lokal. Apalagi film-film tersebut dapat bersaing di pentas internasional demi meyakinkan jika sineas Indonesia dapat membuat film bermutu.

Merambah tahun 2019, timbul persoalan yang lumayan menarik. Gimana pertumbuhan industri Agen Casino Deposit Murah Indonesia dikala ini? Apa yang dapat dilihat dari dunia layar emas Indonesia?

Film Indonesia terus menjadi merajai bioskop

Kala industri perfilman Indonesia terus menjadi menanjak naik buat mengarah ke puncak kegemilangan, ini maksudnya reaksi dari warga Indonesia sangatlah baik. Perihal itu teruji dari film-film Indonesia yang sanggup merajai bioskop yang terdapat di tiap kota di Indonesia.

Terus menjadi hari, film Indonesia terus menjadi menampilkan tajinya. Nampak dari film semacam Pengabdi Setan, Dilan 1990, sampai sekuelnya Dilan 1991 yang sukses memahami bioskop, apalagi dapat menggusur film-film luar negara yang luncurkan dalam waktu yang bertepatan. Jangan lupakan pula rekor pemirsa yang terus dipecahkan.

Kala rekor positif ini terus dipertahankan, hingga ini jadi tanda-tanda baik. Industri perfilman Indonesia terus berkembang, sineas muda mulai bermunculan, serta para pemirsa terpuaskan dengan karya yang mereka tonton.

Tidak lagi cuma bermain di genre horror

Indonesia memanglah mempunyai riwayat yang lumayan panjang dalam dunia mistis, serta itu pula terbawa ke dalam dunia film. Indonesia memiliki barisan film berjenis horror yang terus meningkat tiap tahunnya.

Tidak terdapat yang salah dengan perihal itu, tetapi pernah terdapat fase di mana film horror sangat banyak dibuat, tetapi tidak dengan mutu yang bagus.

Untungnya, banyak sineas yang mulai membuat film di luar genre horror. Serta teruji film-film mereka sukses pula. The Raid, The Raid 2, serta Laskar Pelangi merupakan fakta nyata dari kehebatan film-film Indonesia di luar genre horror.

Timbul banyak aktris serta aktor berbakat

Tiap bulannya, film Indonesia terkini senantiasa timbul di bioskop. Serta perihal itu bawa satu dampak positif lagi, ialah timbulnya banyak aktris serta aktor berbakat. Mereka juga tidak cuma" numpang melalui" di satu film kemudian lenyap bak ditelan bumi.

Mereka sukses terus mencermati performa mereka di tiap film yang mereka bintangi, apalagi jadi lebih hebat lagi. Sebut saja Tara Basro serta Chelsea Islan. Kedua aktris ini tidak sempat menyudahi membagikan persembahan terbaik kepada para pemirsa.

Sehabis lewat masa-masa kelam yang sempat dirasakan, pergerakan industri perfilman Indonesia susah buat dihentikan. Serta itu merupakan perihal yang sangat bagus. Ayo dukung terus perfilman Indonesia! 
Friday, October 9, 2020

Yes, God, Yes: Pertentangan Batin Remaja Antara Hawa Nafsu dan Nilai Agama oleh - filmnusantara.xyz

Halo sahabat selamat datang di website filmnusantara.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Yes, God, Yes: Pertentangan Batin Remaja Antara Hawa Nafsu dan Nilai Agama oleh - filmnusantara.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Indonesia merupakan salah satu negara yang masih kuat akan berbagai nilai agama. Membuat setiap remaja tumbuh dalam lingkungan religius dengan segala batasan dan panduannya. Sebagai seorang remaja yang masih lugu dan polos, kita mungkin pernah dihantui rasa berdosa ketika melewati batasan tertentu. Itulah yang dirasakan Alice dalam film ‘Yes, God, Yes’.

Another coming of age film, ‘Yes, God, Yes’ disutradarai dan ditulis oleh Karen Maine. Dibintangi oleh Natalia Dyer (Stranger Things) sebagai Alice, gadis remaja beragama Katolik yang sedang terpuruk dan dihadapi dilema ketika Ia mulai merasakan dorongan seksual di masa akil baliqh-nya.

Yes, God, Yes

Vertical Entertainment

Alice tumbuh di sebuah keluarga yang taat beragama, sekolah di sekolahan Katolik, dengan teman-teman yang juga religius. Melalui platform chatting online, Alice menemukan hal yang membuatnya mulai melanggar batasan yang selama ini diajarkan oleh agamanya. Ditambah dengan gosip yang beredar di sekolah akan dirinya, Alice semakin merasa “tersesat” dan berdosa. Berharap mengalami perubahan dalam dirinya, Ia pun mengikuti retret Katolik sekolahnya dan mendapatkan pencerahan yang sangat tidak terduga atas segala kegelisahannya.

Ketika Hawa Nafsu Biologis Bertentangan Dengan Nilai Agama

Semua agama selalu mengajarkan kita untuk menahan hawa nafsu, salah satunya nafsu seksual. Seks seakan sesuatu yang tabu untuk dibicarakan, meski kenyataannya, hal tersebut merupakan salah satu bagian pada tubuh dan hidup kita yang natural.

Film diawali dengan penjabaran singkat dari nilai-nilai tersebut, membawa kita pada situasi Alice yang beragama Katolik dengan ajarannya. Sangat tepat menaruh statement tersebut pada permulaan film. Hal ini untuk memberikan patokan awal atau standard salah dan benar di mata agama.

Hingga akhirnya kita memasuki babak dimana Alice menghadapi hawa nafsu seksualnya secara tidak sengaja. Mungkin beberapa dari kita juga pernah merasakan kegelisahan yang sama di kala remaja. Inilah salah satu keunggulan dari “Yes God Yes”; memiliki ide cerita yang relevan dengan penonton. Isu ini juga mungkin banyak dialami oleh remaja Indonesia dan belum ada film lokal dengan materi seperti ini.

Yes, God, Yes

Vertical Entertainment

“Yes God Yes” mengambil latar pada tahun 2000-an, diperlihatkan melalui handphone yang masih monophonic dan komputer dengan desain yang jadul. Pilihan latar waktu yang pas karena film ini berlatar di Amerika. Ketika remaja masih memiliki akses terbatas akan segala informasi dan kehidupan tidak sebebas jaman sekarang di sana.

Penampilan Natalia Dyer Sebagai Remaja Katolik yang Lugu

Sebagai Alice, Natalia Dyer memberikan penampilan akting dan penokohan yang sempurna. Ia berhasil mengeksekusi karakter Alice yang lugu dan kikuk. Sebetulnya tidak ada yang spesial dari Alice, Ia murid biasa-biasa saja, tidak terlalu populer, dan memiliki kehidupan yang biasa saja. Bukan karakter eksentrik dengan segala pemikiran yang kritis dan unik seperti tokoh utama pada sebagian besar film drama remaja.

Yes, God, Yes

Vertical Entertainment

Sudah lama semenjak film drama remaja dibawakan tanpa narasi dari pemeran utamanya. Meski tanpa narasi untuk menjelaskan perasaan pemeran utama, Natalia Dyer mampu membawakan akting yang “berbicara”. Bisa dibilang Natalia tidak memiliki porsi dialog yang banyak. Ia hanya diam, merasakan, dan mengobservasi situasi sepanjang kisah.

Tidak Merendahkan Ajaran Agama Tertentu, Hanya Memberikan Perspektif Baru

Agama merupakan materi yang cukup sensitif. Salah-salah naskah yang ditulis bisa merendahkan ajaran agama tertentu meski secara tidak sengaja. “Yes, God, Yes” sama sekali tidak memberikan statement jelas tentang ‘ini yang benar dan ini salah’, hanya memberikan sebuah pencerahan baru yang bisa memberikan dampak berbeda pada setiap penontonnya. Setiap penonton pasti memiliki keyakinan dan prinsip yang berbeda. Dibutuhkan pikiran terbuka untuk bisa menangkap pesan yang hendak disampaikan melalui film ini.

Oleh karena itu, sebuah pilihan yang tepat untuk tidak memberikan narasi seperti film drama remaja pada umumnya. Kita sebagai penonton hanya bisa mengobservasi dan menarik kesimpulan sendiri, bahkan tanpa intervensi pendapat dari karakter utama yang memposisikan diri sebagai pihak yang harus didukung dan dibenarkan pemikirannya.

Setiap agama mengajarkan hal yang baik dan manusia tak pernah lepas dari dosa. Namun, apakah merasakan hasrat seksual sebagai proses pendewasaan fisik dan psikis merupakan sebuah hal yang salah? “Yes, God, Yes” telah menyajikan isu yang selama ini mungkin bersembunyi dalam batin kita dan memberikan pencerahan baru dengan komposisi yang tepat.

Itulah tadi informasi mengenai Yes, God, Yes: Pertentangan Batin Remaja Antara Hawa Nafsu dan Nilai Agama oleh - filmnusantara.xyz dan sekianlah artikel dari kami filmnusantara.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Saturday, August 8, 2020

High Jack Review: Stoner Movie yang Penuh Slapstick oleh - filmnusantara.xyz

Halo sahabat selamat datang di website filmnusantara.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar High Jack Review: Stoner Movie yang Penuh Slapstick oleh - filmnusantara.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Film Stoner adalah film bergenre komedi yang garis besar ceritanya berkaitan dengan penggunaan ganja. Ganja yang memang digunakan untuk tujuan rekreasional menjadi inspirasi utama yang mendasari jalan cerita dalam film.

Tentunya kita bisa membayangkan film ini akan sangat absurd karena orang-orangnya dalam kondisi setengah tidak sadar. Subgenre inilah yang menggambarkan isi film dari High Jack (2018).

Ayah Rakesh sangat menginginkan putranya menjadi dokter. Namun Rakesh memiliki passionnya sendiri menjadi seorang DJ. Ia ditipu dan kehabisan uang. Di saat sedang mabuk ia malah mengiyakan tawaran menjadi penyelundup narkoba.

Sampai di sini kita akan mengira ini adalah film bergenre crimes. Rakesh yang sadar akan kebodohannya menjadi paranoid. Ia takut tertangkap polisi. Sayangnya ia justru terlibat dalam masalah lebih besar. Pesawatnya dibajak.

High Jack Review

High Jack(2018)

Dialog pada sepertiga awal film cukup menarik dan mengocok perut. Kita bisa melihat bahwa penulis skenarionya berupaya mengangkat isu-isu sosial dan menyentilnya dengan cerdas. Di sini ada tokoh pria yang misoginis sekaligus anti negara tetangga, perempuan yang kesal karena dikritisi caranya mengasuh anak, hingga penumpang di kursi sebelah yang sangat menyebalkan. Karakter-karakter unik inilah yang menjadi bahan bakar komedi dalam High Jack.

Ditambah lagi perdebatan di antara pasangan Taneja yang sudah berusia lanjut sangat relatable. Khas hubungan pasutri yang benci tapi cinta. Sayangnya motif dari pembajakan pesawat ini kurang dijelaskan secara gamblang.

Mencuri emas? Atau hanya ingin membuat khawatir pemilik perusahaan? Mengapa tidak memberikan tuntutan? Ini adalah salah satu plot hole dalam High Jack. Plot hole lainnya adalah tidak dijelaskan mengapa Rakesh tak dikejar oleh bandar narkoba padahal melarikan ganja yang berkualitas.

Karena ini adalah film komedi yang absurd, jangan heran ada banyak adegan tak masuk akal. Ada pula inside jokes yang mungkin sulit dipahami penonton internasional. Selain itu, bagi orang yang tidak banyak menonton berita mungkin akan bingung ketika isu konflik dengan negara tetangga diangkat dalam dialog. Penulis skenarionya juga berupaya mengangkat topik seksisme. Sayangnya dialog dalam film ini tak selalu cerdas. Beberapa juga terdengar basi karena terlalu lazim digunakan.

Film ini mungkin kurang akrab bagi industri di Indonesia karena masalah legalitas. Akan sangat menarik bila sineas di Indonesia bisa membuat film dengan genre serupa. Bukan untuk mendukung narkoba tapi sebagai eksplorasi kreatif.

High Jack membuktikan bahwa stoner movie bisa menjanjikan dan menjadi medium untuk pembahasan isu sosial. Di luar plot hole, scene tak penting yang terlalu makan durasi, hingga akting yang tak selalu mumpuni sebenarnya High Jack sudah lebih dari cukup dalam menghibur.

Itulah tadi informasi dari daftar poker online mengenai High Jack Review: Stoner Movie yang Penuh Slapstick oleh - filmnusantara.xyz dan sekianlah artikel dari kami filmnusantara.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Saturday, July 18, 2020

Japan Sinks 2020 Review: Jepang dan Terror Bencana Gempa Bumi oleh - filmnusantara.xyz

Halo sahabat selamat datang di website filmnusantara.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Japan Sinks 2020 Review: Jepang dan Terror Bencana Gempa Bumi oleh - filmnusantara.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Jepang memiliki nasib yang sama seperti Indonesia jika dilihat dari letak negaranya. Keduanya berada di atas zona Cincin Api Pasifik. Hal tersebut menyebabkan Jepang dan Indonesia sering kali mengalami bencana gempa bumi atau letusan gunung berapi.

Premis inilah yang digunakkan oleh Masaaki Yuasa saat menciptakan serial animasi Japan Sinks: 2020. Serial animasi original Netflix ini baru saja tayang bulan Juli.

japan sinks 2020

Netflix

Japan Sinks ternyata merupakan judul dari sebuah novel fiksi karya Sakyo Komatsu yang dirilis pada tahun 1973. Masaaki Yuasa mengadaptasi novel ini menjadi sebuah serial animasi, namun dengan latar waktu tahun 2020. Pemilihan latar waktu di masa kini dipilih oleh Masaaki Yuasa agar penonton dapat terhubung dan ikut merasakan kengerian bencana alam dalam serial ini.

Menceritakan Kisah Tragis Sebuah Keluarga

Episode pertama dibuka dengan Jepang yang masih dalam keadaan baik. Seluruh warganya menjalankan hari seperti biasanya. Begitu juga dengan Ayumu Mutoh (Reina Ueda) yang memilih untuk menjalankan rutinitas latihan larinya. Ayumu merupakan atlet lari di sekolahnya. Sore itu ia menghabiskan waktu bersama teman-teman dan juga pelatihnya.

Anggota keluarga Mutoh yang lain juga sedang melakukan kegiatannya masing-masing. Sama seperti anak-anak kebanyakan, Go Mutoh (Tomo Muranaka) sedang asik memainkan game online sore itu. Kesibukkan kedua orangtuanya membuat Go terbiasa tinggal sendirian di rumah.

Bekerja di sebuah konstruksi membuat ayahnya, Koichiro Mutoh (Masaki Terasoma), sering pulang larut malam. Ibunya sering bepergian ke luar negeri, namun, sore itu rencananya sang ibu, Mari Mutoh (Yuko Sasaki), akan sampai di Jepang setelah berkunjung dari sebuah negara.

Tiba-tiba sebuah gempa berskala cukup besar terjadi sore itu. Gempa tersebut terjadi dalam waktu yang singkat, namun kepanikan tetap dialami oleh Ayumu dan teman-temannya. Sesi latihan hari itu akhirnya selesai dan mereka bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing.

Saat sedang di ruang ganti baju, seketika seluruh ponsel berdering. Ayumu dan teman-temannya mendapatkan pemberitahuan bahwa gempa telah terjadi. Hanya beberapa detik berselang saat tiba-tiba sebuah gempa dengan skala yang lebih besar kembali mengguncang wilayah itu.

japan sinks 2020 netflix

Netflix

Ayumu cukup beruntung karena selamat dari bencana, namun trauma menyerang Ayumu. Ia harus menyaksikan langsung keadaan mengenaskan teman-temannya yang tidak bisa ia selamatkan.

Keberuntungan Ayumu tidak sampai di situ. Ternyata, seluruh anggota keluarganya, yaitu Go, sang ayah, dan ibu berhasil menyelamatkan diri mereka dari bencana. Keluarga itupun bersatu dan bersama-sama bertahan di tengah kehancuran yang diakibatkan oleh gempa bumi.

Cerita yang Terkesan Berulang-ulang

Keluarga Mutoh digambarkan sebagai keluarga yang selalu positif dan optimis. Alih-alih merasa sedih dan ketakutan, anggota Keluarga Mutoh tidak pernah kehilangan senyum dan semangat mereka dalam bertahan hidup.

Energi positif yang dimiliki oleh keluarga ini ternyata tidak menutup nasib buruk yang malah menimpa mereka terus-menerus. Hampir di setiap episode selalu ada kisah tragis yang dialami oleh keluarga ini. Rasanya seperti kesialan sedang membayang-bayangi Keluarga Mutoh.

Cerita tragis yang menimpa Keluarga Mutoh terkesan berulang-ulang, sehingga membuat atmosfer ngeri dalam serial ini terasa hilang dan berubah menjadi membosankan. Apalagi ketika kesialan yang dirasakan oleh Keluarga Mutoh bukan diakibatkan oleh gempa bumi atau bencana alam lainnya, namun karena kebodohan dan kesalahan tokoh itu sendiri.

Japan Sinks 2020

Netflix

Pengembangan karakter setiap tokoh dalam serial ini sama sekali tidak dirasakan. Setiap tokoh memiliki karakter yang sama dari episode awal sampai akhir, padahal banyak sekali kesempatan untuk mengembangkan karakter para tokoh. Karakter tokoh yang terkesan statis membuat penonton dapat dengan mudah menebak kelanjutan kisah dan nasib dari tiap tokoh.

Mampu Menggambarkan Kengerian Bencana Alam Melalui Animasi

Hal yang pertama kali disadari saat melihat serial animasi ini adalah animasi setiap tokoh yang dibuat sederhana. Kontras dengan sederhananya kualitas penggambaran tokoh, penggambaran latar tempat dalam serial ini dibuat sangat rapi dan mendetail. Mungkin hal tersebut dilakukan agar penonton lebih fokus dengan kehancuran Jepang setelah dilanda bencana gempa bumi.

Science Saru sebagai rumah produksi animasi ini sukses menyampaikan kengerian bencana alam melalui animasi. Jalan-jalan yang terbelah, rumah dan gedung yang roboh, serta penggambaran korban-korban yang tewas akibat gempa digambarkan dengan sangat baik.

Gambar grafis yang eksplisit dan banyaknya momen mengerikan dalam serial ini membuat Japan Sinks: 2020 hanya dapat dinikmati oleh penonton berumur 18 tahun keatas.

Secara keseluruhan, Japan Sinks: 2020 merupakan sebuah serial animasi yang berpotensi, namun masih memiliki kekurangan dalam naskah ceritanya yang terkesan membosankan. Untungnya hal tersebut dapat ditutupi oleh kualitas animasi yang mengesankan.

Japan Sinks: 2020 sangat cocok dinikmati oleh penikmat film bergenre disaster dan science fiction. Durasi yang pendek di tiap episodenya membuat serial animasi ini dapat dinikmati dalam waktu yang singkat. Kengerian, namun tetap lekat dengan nuansa kekeluargaan dapat kita rasakan dalam Japan Sinks: 2020.

Itulah tadi informasi mengenai Japan Sinks 2020 Review: Jepang dan Terror Bencana Gempa Bumi oleh - filmnusantara.xyz dan sekianlah artikel dari kami filmnusantara.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

The Bridge Season 2 Review oleh - filmnusantara.xyz

Halo sahabat selamat datang di website filmnusantara.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar The Bridge Season 2 Review oleh - filmnusantara.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

The Bridge Season 2 telah rilis dan tayang baik di Viu maupun HBO Asia. Serial ini merupakan adaptasi serial bikinan Endemol Shine, perusahaan media yang berpusat di Belanda. Pada season ini The Bridge menampilkan sederatan aktor dan aktris dari Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Singapura. Episode baru akan tayang tiap minggunya dan berjumlah 10 episode. Penonton Indonesia dapat menikmatinya tiap pukul 8 malam.

Bila pada season 1 kita melihat duet dari ICD asal Singapura dan Malaysia yaitu Serena Teo dan Megat Jamal, season ini akan menampilkan perwakilan Indonesia. Tim dipimpin oleh Komandan Bayu (Lukman Sardi) dengan anggota Heri (Ario Bayu) dan Indah (Whulandary Herman). Mereka terlibat dalam penyidikan kasus pembunuhan WNI yang terkait perdagangan heroin.

Korban pertama adalah keluarga Susilo bersama istri dan kedua anaknya. Mereka ditemukan dalan yacht yang terdaftar di Singapura. Nantinya diketahui si pembunuh memiliki ciri khas dalam beraksi. Serena curiga kalau Susilo terlibat sesuatu hanya saja catatan kriminalnya bersih. Berkat instingnya ia menemukan heroin dalam yacht tersebut. Penemuan heroin itu menghubungkannya dengan seorang kurir.

Sang kurir mengaku akan mengirim obat-obatan pada seorang anak kaya. Anak kaya yang dimaksud adalah Zek. Ayah ibunya sebenarnya mendapatkan uang mereka dari jalan yang haram. Sang ayah berani melakukan apa saja demi mendapatkan uang. Sementara sang ibu ingin bertobat karena menyadari umurnya tidak lama lagi. Tapi Zek tidak merasa bahwa bisnis yang ia miliki sudah cukup. Ia justru tergiur dengan hal lain.

The Bridge Season 2 Review

The Bridge Season 2

Episode pertamanya sudah sangat kompleks. Sebenarnya kasus yang dihadapi oleh ICD alias badan yang menangani kasus kriminal di Asia Tenggara ini tak hanya narkoba dan pembunuhan. Kita akan melihat clue dari episode pertama seperti mafia, intrik bisnis, hingga kasus kekerasan seksual. Selain itu nampaknya akan ada office politic yang membuat kerja pada staff ICD ini terhambat. The Bridge Season 2 nampaknya ingin lebih berani lagi dengan menangkat tema yang lebih berat.

Dibanding season 1, season 2 akan menggambarkan lebih dalam seluk beluk dunia hitam di Asia. Tentu saja ada risiko dari hal ini. Bisa saja nantinya akan banyak plot hole atau dramanya terasa terlalu berat untuk dicerna penonton. Namun The Bridge sendiri memang memiliki kekuatan. Bila melihat season 1-nya kita bisa menyadari bahwa skenarionya cukup smooth. Walaupun karakter dalam serial ini dari berbagai negara, mereka digambarkan dengan baik.

Tiap karakter benar-benar menonjolkan keunikan negaranya sendiri. Menggunakan bahasa maupun dialeknya masing-masing serta menyindir perbedaan budaya antarnegara. Tidak ada negara yang lebih ditonjolkan ataupun dianaktirikan. Semua mendapat porsinya masing-masing untuk bersinar. Ini menarik karena pasti penulisan skenarionya sulit. Sang penulis harus berhati-hati agar tiap karakter terlihat otentik sesuai dengan asal negaranya dan tidak terlihat seperti orang yang tidak punya latar belakang.

Bahkan kita bisa melihat serial ini sengaja memilih nama karakter yang benar-benar menggambarkan asal usulnya. Misalnya karakter Indonesia bernama Heri dan Indah. Pada karakter Malaysia, orangtuanya dipanggil emak sementara sang suami yang dianggap punya posisi prestige memiliki gelar datuk. Kita juga akan melihat nama peranakan yang unik dan tidak kita dengar di film produksi Indonesia. The Bridge tak hanya menyajikan serial yang menegangkan tapi juga membuat kita mempelajari budaya masing-masing negara.

Harus diakui salah satu kesuksesan awal dari The Bridge adalah pemilihan aktor dan aktris yang tepat dalam memerankan masing-masing karakter. Bisa dibilang, hampir semua tokoh antagonis dalam serial ini memiliki akting gemilang. Mereka sangat menonjol dan mampu menunjukkan kharismanya masing-masing. Bukan hanya karena sebagian adalah aktor dan aktris kawakan yang telah puluhan tahun berkarir. Sebagian masih muda tapi berakting apik.

Sekali lagi The Bridge menunjukkan bahwa Asia Tenggara mampu memproduksi serial yang sangat keren. Selain ketegangan yang lebih intens dibanding season sebelumnya, ide ceritanya pun patut diacungi jempol. Serial ini akan sangat dinikmati oleh para pecinta genre crimes.

Itulah tadi informasi dari judi online mengenai The Bridge Season 2 Review oleh - filmnusantara.xyz dan sekianlah artikel dari kami filmnusantara.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Wednesday, July 15, 2020

The Bridge Season 2 Review oleh - filmnusantara.xyz

Halo sahabat selamat datang di website filmnusantara.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar The Bridge Season 2 Review oleh - filmnusantara.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

The Bridge Season 2 telah rilis dan tayang baik di Viu maupun HBO Asia. Serial ini merupakan adaptasi serial bikinan Endemol Shine, perusahaan media yang berpusat di Belanda. Pada season ini The Bridge menampilkan sederatan aktor dan aktris dari Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Singapura. Episode baru akan tayang tiap minggunya dan berjumlah 10 episode. Penonton Indonesia dapat menikmatinya tiap pukul 8 malam.

Bila pada season 1 kita melihat duet dari ICD asal Singapura dan Malaysia yaitu Serena Teo dan Megat Jamal, season ini akan menampilkan perwakilan Indonesia. Tim dipimpin oleh Komandan Bayu (Lukman Sardi) dengan anggota Heri (Ario Bayu) dan Indah (Whulandary Herman). Mereka terlibat dalam penyidikan kasus pembunuhan WNI yang terkait perdagangan heroin.

Korban pertama adalah keluarga Susilo bersama istri dan kedua anaknya. Mereka ditemukan dalan yacht yang terdaftar di Singapura. Nantinya diketahui si pembunuh memiliki ciri khas dalam beraksi. Serena curiga kalau Susilo terlibat sesuatu hanya saja catatan kriminalnya bersih. Berkat instingnya ia menemukan heroin dalam yacht tersebut. Penemuan heroin itu menghubungkannya dengan seorang kurir.

Sang kurir mengaku akan mengirim obat-obatan pada seorang anak kaya. Anak kaya yang dimaksud adalah Zek. Ayah ibunya sebenarnya mendapatkan uang mereka dari jalan yang haram. Sang ayah berani melakukan apa saja demi mendapatkan uang. Sementara sang ibu ingin bertobat karena menyadari umurnya tidak lama lagi. Tapi Zek tidak merasa bahwa bisnis yang ia miliki sudah cukup. Ia justru tergiur dengan hal lain.

The Bridge Season 2 Review

The Bridge Season 2

Episode pertamanya sudah sangat kompleks. Sebenarnya kasus yang dihadapi oleh ICD alias badan yang menangani kasus kriminal di Asia Tenggara ini tak hanya narkoba dan pembunuhan. Kita akan melihat clue dari episode pertama seperti mafia, intrik bisnis, hingga kasus kekerasan seksual. Selain itu nampaknya akan ada office politic yang membuat kerja pada staff ICD ini terhambat. The Bridge Season 2 nampaknya ingin lebih berani lagi dengan menangkat tema yang lebih berat.

Dibanding season 1, season 2 akan menggambarkan lebih dalam seluk beluk dunia hitam di Asia. Tentu saja ada risiko dari hal ini. Bisa saja nantinya akan banyak plot hole atau dramanya terasa terlalu berat untuk dicerna penonton. Namun The Bridge sendiri memang memiliki kekuatan. Bila melihat season 1-nya kita bisa menyadari bahwa skenarionya cukup smooth. Walaupun karakter dalam serial ini dari berbagai negara, mereka digambarkan dengan baik.

Tiap karakter benar-benar menonjolkan keunikan negaranya sendiri. Menggunakan bahasa maupun dialeknya masing-masing serta menyindir perbedaan budaya antarnegara. Tidak ada negara yang lebih ditonjolkan ataupun dianaktirikan. Semua mendapat porsinya masing-masing untuk bersinar. Ini menarik karena pasti penulisan skenarionya sulit. Sang penulis harus berhati-hati agar tiap karakter terlihat otentik sesuai dengan asal negaranya dan tidak terlihat seperti orang yang tidak punya latar belakang.

Bahkan kita bisa melihat serial ini sengaja memilih nama karakter yang benar-benar menggambarkan asal usulnya. Misalnya karakter Indonesia bernama Heri dan Indah. Pada karakter Malaysia, orangtuanya dipanggil emak sementara sang suami yang dianggap punya posisi prestige memiliki gelar datuk. Kita juga akan melihat nama peranakan yang unik dan tidak kita dengar di film produksi Indonesia. The Bridge tak hanya menyajikan serial yang menegangkan tapi juga membuat kita mempelajari budaya masing-masing negara.

Harus diakui salah satu kesuksesan awal dari The Bridge adalah pemilihan aktor dan aktris yang tepat dalam memerankan masing-masing karakter. Bisa dibilang, hampir semua tokoh antagonis dalam serial ini memiliki akting gemilang. Mereka sangat menonjol dan mampu menunjukkan kharismanya masing-masing. Bukan hanya karena sebagian adalah aktor dan aktris kawakan yang telah puluhan tahun berkarir. Sebagian masih muda tapi berakting apik.

Sekali lagi The Bridge menunjukkan bahwa Asia Tenggara mampu memproduksi serial yang sangat keren. Selain ketegangan yang lebih intens dibanding season sebelumnya, ide ceritanya pun patut diacungi jempol. Serial ini akan sangat dinikmati oleh para pecinta genre crimes.

Itulah tadi informasi dari judi online mengenai The Bridge Season 2 Review oleh - filmnusantara.xyz dan sekianlah artikel dari kami filmnusantara.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Surat dari Praha Review: Drama Romantis Dengan Bumbu Sejarah oleh - filmnusantara.xyz

Halo sahabat selamat datang di website filmnusantara.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Surat dari Praha Review: Drama Romantis Dengan Bumbu Sejarah oleh - filmnusantara.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Surat dari Praha merupakan film karya sutradara Angga Dwimas Sasongko, dibintangi oleh Julie Estelle dan Tio Pakusadewo. Rilis pada tahun 2016 silam, film ini sempat masuk seleksi Academy Awards ke-89 untuk kategori Best Foreign Language Film mewakili Indonesia, meski sayangnya tidak lolos sebagai nominasi utama dalam ajang tersebut.

Film drama ini memiliki muatan sejarah yang dikemas dengan kisah romantis. Kisah berawal dari seorang wanita bernama Larasati. Di tengah proses perceraiannya dengan suami, Larasati harus memenuhi wasiat ibunya untuk mengirimkan surat ke sosok pria misterius di Praha.

Alur dan Perkembangan Cerita yang Cukup Cepat

Film drama serupa biasanya akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menarik perhatian penontonnya. Tanpa banyak basa-basi, babak pembuka dieksekusi cukup cepat untuk segera mempertemukan Larasati dengan Jaya di Praha.

Larasati sebagai pemeran utama langsung mendapatkan objektif yang jelas dan membuat kita ingin segera tahu apa misteri yang tersembunyi dari misinya mengirim surat ke Jaya, pria yang sama sekali tidak Ia kenal tersebut.

Surat dari Praha

Surat dari Praha

Sesampainya di Praha, awalnya rencana Larasati tidak berjalan semulus yang Ia bayangkan. Namun, meski sempat terpisah dengan Jaya, penulis naskah menyematkan plot yang akhirnya mengembalikan Larasati pada objektifnya. Pada titik ini, kita akan mulai di bawah menyaksikan perkembangan interaksi kedua karakter yang menjadi statement dari kisah ini.

Setelah melewati konflik utama antara Larasati dan Jaya, kita tidak akan ditinggalkan dengan kisah yang membosankan. Kita akan disuguhkan berbagai materi drama dan beberapa kisah sejarah tentang para mahasiswa Indonesia yang menjadi eksil pada masa pemerintahan Orde Baru.

Karena kemasan utama dari film ini adalah drama romantis, informasi sejarah yang disajikan dengan porsi yang tepat dan cukup memancing penonton untuk akhirnya mencari tahu sendiri tentang sejarah para eksil di tahun 1965.

Perkembangan Interaksi Antara Larasati dan Jaya yang Menarik

Larasati yang diperankan oleh Julie Estelle digambarkan sebagai wanita modern yang telah melewati banyak kekecewaan dalam hidupnya, hal ini membuatnya berhati keras dan tak pernah basa-basi dalam mengambil tindakan. Sementara Tio Pakusadewo berperan sebagai Jaya, pria yang tak kalah kerasnya dengan Larasati namun menyimpan sisi melankolis mendalam dalam hatinya.

Surat dari Praha

Surat dari Praha Review

Surat dari Praha akan lebih membawa penonton dalam sudut pandang Larasati, sementara Jaya adalah karakter yang menarik untuk kita pahami. Mungkin kita akan lebih pro pada Larasati dengan pemikiran yang lebih modern dan bebas.

Terkadang, generasi muda modern seperti kita selalu merasa superior, lebih open minded, tanpa mau mendengarkan penjelasan dari orang yang lebih berpengalaman. Namun, ketika keduanya hendak mendengarkan pemikiran sama satu sama lain, tak susah untuk memahami satu sama lain lepas dari perbedaan latar belakang dan generasi. Interaksi seperti ini ‘lah yang berhasil dieksekusi oleh Julie dan Tio dalam membawakan kedua karakter dalam film ini.

Jika ingin benar-benar menyimak setiap dialog antara Larasati dan Jaya, kita juga bisa mengeksplorasi perasaan dan pertimbangan Jaya yang tak terucap sekalipun. Mengapa ia memutuskan untuk tetap idealis meski harus mengorbankan cintanya.

Kita juga bisa membayangkan keputusan yang diambil oleh ibu Larasati dalam masa yang pelik dan kompleks tersebut. Lebih dari drama politik dan masalah krisi nasionalisme, Orde Baru juga menimbulkan berbagai masalah sentimentil bagi pihak-pihak tertentu.

Sudut Pandang Kisah Sejarah yang Lebih Personal Dieksekusi Dengan Tepat

Ada banyak film biografi dan perang yang diangkat dari kisah sejarah. Film memang merupakan salah satu media efektif untuk mengedukasi dan mengabadikan konten sejarah agar selalu diingat.

Berbeda dengan film-film bersejarah pada umumnya, Surat dari Praha ingin mengekspos sosok yang tidak terlalu diperhitungkan dalam sejarah Orde Baru. Padahal, dampak yang mereka rasakan juga tidak kalah besar dan berat. Bagaimana urusan hati dan perasaan juga bisa mempengaruhi kelanjutan hidup seseorang.

Angga Dwimas Sasongko sebagai sutradara terinspirasi dari kisah para eksil Orde Baru. Namun, Surat dari Praha sendiri merupakan naskah fiksi romantis yang Ia kembangkan sendiri. Tetap realistis dan natural, tak menutup kemungkinan ada seseorang di luar sana yang mengalami situasi seperti Jaya.

Ketika film bersejarah skala besar lebih fokus pada materi yang monumental, Surat dari Praha lebih mengeksplorasi dampak pada orang yang terkena dampaknya. Kisah Jaya merupakan salah satu sampel dari banyaknya para eksil lainnya.

Surat dari Praha merupakan salah satu film drama Indonesia terbaik yang patut kita tonton. Film ini sudah bisa kita tonton di Netflix.

Itulah tadi informasi mengenai Surat dari Praha Review: Drama Romantis Dengan Bumbu Sejarah oleh - filmnusantara.xyz dan sekianlah artikel dari kami filmnusantara.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Sunday, July 12, 2020