Browsing "Older Posts"

High Jack Review: Stoner Movie yang Penuh Slapstick oleh - filmnusantara.xyz

Halo sahabat selamat datang di website filmnusantara.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar High Jack Review: Stoner Movie yang Penuh Slapstick oleh - filmnusantara.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Film Stoner adalah film bergenre komedi yang garis besar ceritanya berkaitan dengan penggunaan ganja. Ganja yang memang digunakan untuk tujuan rekreasional menjadi inspirasi utama yang mendasari jalan cerita dalam film.

Tentunya kita bisa membayangkan film ini akan sangat absurd karena orang-orangnya dalam kondisi setengah tidak sadar. Subgenre inilah yang menggambarkan isi film dari High Jack (2018).

Ayah Rakesh sangat menginginkan putranya menjadi dokter. Namun Rakesh memiliki passionnya sendiri menjadi seorang DJ. Ia ditipu dan kehabisan uang. Di saat sedang mabuk ia malah mengiyakan tawaran menjadi penyelundup narkoba.

Sampai di sini kita akan mengira ini adalah film bergenre crimes. Rakesh yang sadar akan kebodohannya menjadi paranoid. Ia takut tertangkap polisi. Sayangnya ia justru terlibat dalam masalah lebih besar. Pesawatnya dibajak.

High Jack Review

High Jack(2018)

Dialog pada sepertiga awal film cukup menarik dan mengocok perut. Kita bisa melihat bahwa penulis skenarionya berupaya mengangkat isu-isu sosial dan menyentilnya dengan cerdas. Di sini ada tokoh pria yang misoginis sekaligus anti negara tetangga, perempuan yang kesal karena dikritisi caranya mengasuh anak, hingga penumpang di kursi sebelah yang sangat menyebalkan. Karakter-karakter unik inilah yang menjadi bahan bakar komedi dalam High Jack.

Ditambah lagi perdebatan di antara pasangan Taneja yang sudah berusia lanjut sangat relatable. Khas hubungan pasutri yang benci tapi cinta. Sayangnya motif dari pembajakan pesawat ini kurang dijelaskan secara gamblang.

Mencuri emas? Atau hanya ingin membuat khawatir pemilik perusahaan? Mengapa tidak memberikan tuntutan? Ini adalah salah satu plot hole dalam High Jack. Plot hole lainnya adalah tidak dijelaskan mengapa Rakesh tak dikejar oleh bandar narkoba padahal melarikan ganja yang berkualitas.

Karena ini adalah film komedi yang absurd, jangan heran ada banyak adegan tak masuk akal. Ada pula inside jokes yang mungkin sulit dipahami penonton internasional. Selain itu, bagi orang yang tidak banyak menonton berita mungkin akan bingung ketika isu konflik dengan negara tetangga diangkat dalam dialog. Penulis skenarionya juga berupaya mengangkat topik seksisme. Sayangnya dialog dalam film ini tak selalu cerdas. Beberapa juga terdengar basi karena terlalu lazim digunakan.

Film ini mungkin kurang akrab bagi industri di Indonesia karena masalah legalitas. Akan sangat menarik bila sineas di Indonesia bisa membuat film dengan genre serupa. Bukan untuk mendukung narkoba tapi sebagai eksplorasi kreatif.

High Jack membuktikan bahwa stoner movie bisa menjanjikan dan menjadi medium untuk pembahasan isu sosial. Di luar plot hole, scene tak penting yang terlalu makan durasi, hingga akting yang tak selalu mumpuni sebenarnya High Jack sudah lebih dari cukup dalam menghibur.

Itulah tadi informasi dari daftar poker online mengenai High Jack Review: Stoner Movie yang Penuh Slapstick oleh - filmnusantara.xyz dan sekianlah artikel dari kami filmnusantara.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Saturday, July 18, 2020

Japan Sinks 2020 Review: Jepang dan Terror Bencana Gempa Bumi oleh - filmnusantara.xyz

Halo sahabat selamat datang di website filmnusantara.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Japan Sinks 2020 Review: Jepang dan Terror Bencana Gempa Bumi oleh - filmnusantara.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Jepang memiliki nasib yang sama seperti Indonesia jika dilihat dari letak negaranya. Keduanya berada di atas zona Cincin Api Pasifik. Hal tersebut menyebabkan Jepang dan Indonesia sering kali mengalami bencana gempa bumi atau letusan gunung berapi.

Premis inilah yang digunakkan oleh Masaaki Yuasa saat menciptakan serial animasi Japan Sinks: 2020. Serial animasi original Netflix ini baru saja tayang bulan Juli.

japan sinks 2020

Netflix

Japan Sinks ternyata merupakan judul dari sebuah novel fiksi karya Sakyo Komatsu yang dirilis pada tahun 1973. Masaaki Yuasa mengadaptasi novel ini menjadi sebuah serial animasi, namun dengan latar waktu tahun 2020. Pemilihan latar waktu di masa kini dipilih oleh Masaaki Yuasa agar penonton dapat terhubung dan ikut merasakan kengerian bencana alam dalam serial ini.

Menceritakan Kisah Tragis Sebuah Keluarga

Episode pertama dibuka dengan Jepang yang masih dalam keadaan baik. Seluruh warganya menjalankan hari seperti biasanya. Begitu juga dengan Ayumu Mutoh (Reina Ueda) yang memilih untuk menjalankan rutinitas latihan larinya. Ayumu merupakan atlet lari di sekolahnya. Sore itu ia menghabiskan waktu bersama teman-teman dan juga pelatihnya.

Anggota keluarga Mutoh yang lain juga sedang melakukan kegiatannya masing-masing. Sama seperti anak-anak kebanyakan, Go Mutoh (Tomo Muranaka) sedang asik memainkan game online sore itu. Kesibukkan kedua orangtuanya membuat Go terbiasa tinggal sendirian di rumah.

Bekerja di sebuah konstruksi membuat ayahnya, Koichiro Mutoh (Masaki Terasoma), sering pulang larut malam. Ibunya sering bepergian ke luar negeri, namun, sore itu rencananya sang ibu, Mari Mutoh (Yuko Sasaki), akan sampai di Jepang setelah berkunjung dari sebuah negara.

Tiba-tiba sebuah gempa berskala cukup besar terjadi sore itu. Gempa tersebut terjadi dalam waktu yang singkat, namun kepanikan tetap dialami oleh Ayumu dan teman-temannya. Sesi latihan hari itu akhirnya selesai dan mereka bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing.

Saat sedang di ruang ganti baju, seketika seluruh ponsel berdering. Ayumu dan teman-temannya mendapatkan pemberitahuan bahwa gempa telah terjadi. Hanya beberapa detik berselang saat tiba-tiba sebuah gempa dengan skala yang lebih besar kembali mengguncang wilayah itu.

japan sinks 2020 netflix

Netflix

Ayumu cukup beruntung karena selamat dari bencana, namun trauma menyerang Ayumu. Ia harus menyaksikan langsung keadaan mengenaskan teman-temannya yang tidak bisa ia selamatkan.

Keberuntungan Ayumu tidak sampai di situ. Ternyata, seluruh anggota keluarganya, yaitu Go, sang ayah, dan ibu berhasil menyelamatkan diri mereka dari bencana. Keluarga itupun bersatu dan bersama-sama bertahan di tengah kehancuran yang diakibatkan oleh gempa bumi.

Cerita yang Terkesan Berulang-ulang

Keluarga Mutoh digambarkan sebagai keluarga yang selalu positif dan optimis. Alih-alih merasa sedih dan ketakutan, anggota Keluarga Mutoh tidak pernah kehilangan senyum dan semangat mereka dalam bertahan hidup.

Energi positif yang dimiliki oleh keluarga ini ternyata tidak menutup nasib buruk yang malah menimpa mereka terus-menerus. Hampir di setiap episode selalu ada kisah tragis yang dialami oleh keluarga ini. Rasanya seperti kesialan sedang membayang-bayangi Keluarga Mutoh.

Cerita tragis yang menimpa Keluarga Mutoh terkesan berulang-ulang, sehingga membuat atmosfer ngeri dalam serial ini terasa hilang dan berubah menjadi membosankan. Apalagi ketika kesialan yang dirasakan oleh Keluarga Mutoh bukan diakibatkan oleh gempa bumi atau bencana alam lainnya, namun karena kebodohan dan kesalahan tokoh itu sendiri.

Japan Sinks 2020

Netflix

Pengembangan karakter setiap tokoh dalam serial ini sama sekali tidak dirasakan. Setiap tokoh memiliki karakter yang sama dari episode awal sampai akhir, padahal banyak sekali kesempatan untuk mengembangkan karakter para tokoh. Karakter tokoh yang terkesan statis membuat penonton dapat dengan mudah menebak kelanjutan kisah dan nasib dari tiap tokoh.

Mampu Menggambarkan Kengerian Bencana Alam Melalui Animasi

Hal yang pertama kali disadari saat melihat serial animasi ini adalah animasi setiap tokoh yang dibuat sederhana. Kontras dengan sederhananya kualitas penggambaran tokoh, penggambaran latar tempat dalam serial ini dibuat sangat rapi dan mendetail. Mungkin hal tersebut dilakukan agar penonton lebih fokus dengan kehancuran Jepang setelah dilanda bencana gempa bumi.

Science Saru sebagai rumah produksi animasi ini sukses menyampaikan kengerian bencana alam melalui animasi. Jalan-jalan yang terbelah, rumah dan gedung yang roboh, serta penggambaran korban-korban yang tewas akibat gempa digambarkan dengan sangat baik.

Gambar grafis yang eksplisit dan banyaknya momen mengerikan dalam serial ini membuat Japan Sinks: 2020 hanya dapat dinikmati oleh penonton berumur 18 tahun keatas.

Secara keseluruhan, Japan Sinks: 2020 merupakan sebuah serial animasi yang berpotensi, namun masih memiliki kekurangan dalam naskah ceritanya yang terkesan membosankan. Untungnya hal tersebut dapat ditutupi oleh kualitas animasi yang mengesankan.

Japan Sinks: 2020 sangat cocok dinikmati oleh penikmat film bergenre disaster dan science fiction. Durasi yang pendek di tiap episodenya membuat serial animasi ini dapat dinikmati dalam waktu yang singkat. Kengerian, namun tetap lekat dengan nuansa kekeluargaan dapat kita rasakan dalam Japan Sinks: 2020.

Itulah tadi informasi mengenai Japan Sinks 2020 Review: Jepang dan Terror Bencana Gempa Bumi oleh - filmnusantara.xyz dan sekianlah artikel dari kami filmnusantara.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

The Bridge Season 2 Review oleh - filmnusantara.xyz

Halo sahabat selamat datang di website filmnusantara.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar The Bridge Season 2 Review oleh - filmnusantara.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

The Bridge Season 2 telah rilis dan tayang baik di Viu maupun HBO Asia. Serial ini merupakan adaptasi serial bikinan Endemol Shine, perusahaan media yang berpusat di Belanda. Pada season ini The Bridge menampilkan sederatan aktor dan aktris dari Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Singapura. Episode baru akan tayang tiap minggunya dan berjumlah 10 episode. Penonton Indonesia dapat menikmatinya tiap pukul 8 malam.

Bila pada season 1 kita melihat duet dari ICD asal Singapura dan Malaysia yaitu Serena Teo dan Megat Jamal, season ini akan menampilkan perwakilan Indonesia. Tim dipimpin oleh Komandan Bayu (Lukman Sardi) dengan anggota Heri (Ario Bayu) dan Indah (Whulandary Herman). Mereka terlibat dalam penyidikan kasus pembunuhan WNI yang terkait perdagangan heroin.

Korban pertama adalah keluarga Susilo bersama istri dan kedua anaknya. Mereka ditemukan dalan yacht yang terdaftar di Singapura. Nantinya diketahui si pembunuh memiliki ciri khas dalam beraksi. Serena curiga kalau Susilo terlibat sesuatu hanya saja catatan kriminalnya bersih. Berkat instingnya ia menemukan heroin dalam yacht tersebut. Penemuan heroin itu menghubungkannya dengan seorang kurir.

Sang kurir mengaku akan mengirim obat-obatan pada seorang anak kaya. Anak kaya yang dimaksud adalah Zek. Ayah ibunya sebenarnya mendapatkan uang mereka dari jalan yang haram. Sang ayah berani melakukan apa saja demi mendapatkan uang. Sementara sang ibu ingin bertobat karena menyadari umurnya tidak lama lagi. Tapi Zek tidak merasa bahwa bisnis yang ia miliki sudah cukup. Ia justru tergiur dengan hal lain.

The Bridge Season 2 Review

The Bridge Season 2

Episode pertamanya sudah sangat kompleks. Sebenarnya kasus yang dihadapi oleh ICD alias badan yang menangani kasus kriminal di Asia Tenggara ini tak hanya narkoba dan pembunuhan. Kita akan melihat clue dari episode pertama seperti mafia, intrik bisnis, hingga kasus kekerasan seksual. Selain itu nampaknya akan ada office politic yang membuat kerja pada staff ICD ini terhambat. The Bridge Season 2 nampaknya ingin lebih berani lagi dengan menangkat tema yang lebih berat.

Dibanding season 1, season 2 akan menggambarkan lebih dalam seluk beluk dunia hitam di Asia. Tentu saja ada risiko dari hal ini. Bisa saja nantinya akan banyak plot hole atau dramanya terasa terlalu berat untuk dicerna penonton. Namun The Bridge sendiri memang memiliki kekuatan. Bila melihat season 1-nya kita bisa menyadari bahwa skenarionya cukup smooth. Walaupun karakter dalam serial ini dari berbagai negara, mereka digambarkan dengan baik.

Tiap karakter benar-benar menonjolkan keunikan negaranya sendiri. Menggunakan bahasa maupun dialeknya masing-masing serta menyindir perbedaan budaya antarnegara. Tidak ada negara yang lebih ditonjolkan ataupun dianaktirikan. Semua mendapat porsinya masing-masing untuk bersinar. Ini menarik karena pasti penulisan skenarionya sulit. Sang penulis harus berhati-hati agar tiap karakter terlihat otentik sesuai dengan asal negaranya dan tidak terlihat seperti orang yang tidak punya latar belakang.

Bahkan kita bisa melihat serial ini sengaja memilih nama karakter yang benar-benar menggambarkan asal usulnya. Misalnya karakter Indonesia bernama Heri dan Indah. Pada karakter Malaysia, orangtuanya dipanggil emak sementara sang suami yang dianggap punya posisi prestige memiliki gelar datuk. Kita juga akan melihat nama peranakan yang unik dan tidak kita dengar di film produksi Indonesia. The Bridge tak hanya menyajikan serial yang menegangkan tapi juga membuat kita mempelajari budaya masing-masing negara.

Harus diakui salah satu kesuksesan awal dari The Bridge adalah pemilihan aktor dan aktris yang tepat dalam memerankan masing-masing karakter. Bisa dibilang, hampir semua tokoh antagonis dalam serial ini memiliki akting gemilang. Mereka sangat menonjol dan mampu menunjukkan kharismanya masing-masing. Bukan hanya karena sebagian adalah aktor dan aktris kawakan yang telah puluhan tahun berkarir. Sebagian masih muda tapi berakting apik.

Sekali lagi The Bridge menunjukkan bahwa Asia Tenggara mampu memproduksi serial yang sangat keren. Selain ketegangan yang lebih intens dibanding season sebelumnya, ide ceritanya pun patut diacungi jempol. Serial ini akan sangat dinikmati oleh para pecinta genre crimes.

Itulah tadi informasi dari judi online mengenai The Bridge Season 2 Review oleh - filmnusantara.xyz dan sekianlah artikel dari kami filmnusantara.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Wednesday, July 15, 2020

The Bridge Season 2 Review oleh - filmnusantara.xyz

Halo sahabat selamat datang di website filmnusantara.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar The Bridge Season 2 Review oleh - filmnusantara.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

The Bridge Season 2 telah rilis dan tayang baik di Viu maupun HBO Asia. Serial ini merupakan adaptasi serial bikinan Endemol Shine, perusahaan media yang berpusat di Belanda. Pada season ini The Bridge menampilkan sederatan aktor dan aktris dari Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Singapura. Episode baru akan tayang tiap minggunya dan berjumlah 10 episode. Penonton Indonesia dapat menikmatinya tiap pukul 8 malam.

Bila pada season 1 kita melihat duet dari ICD asal Singapura dan Malaysia yaitu Serena Teo dan Megat Jamal, season ini akan menampilkan perwakilan Indonesia. Tim dipimpin oleh Komandan Bayu (Lukman Sardi) dengan anggota Heri (Ario Bayu) dan Indah (Whulandary Herman). Mereka terlibat dalam penyidikan kasus pembunuhan WNI yang terkait perdagangan heroin.

Korban pertama adalah keluarga Susilo bersama istri dan kedua anaknya. Mereka ditemukan dalan yacht yang terdaftar di Singapura. Nantinya diketahui si pembunuh memiliki ciri khas dalam beraksi. Serena curiga kalau Susilo terlibat sesuatu hanya saja catatan kriminalnya bersih. Berkat instingnya ia menemukan heroin dalam yacht tersebut. Penemuan heroin itu menghubungkannya dengan seorang kurir.

Sang kurir mengaku akan mengirim obat-obatan pada seorang anak kaya. Anak kaya yang dimaksud adalah Zek. Ayah ibunya sebenarnya mendapatkan uang mereka dari jalan yang haram. Sang ayah berani melakukan apa saja demi mendapatkan uang. Sementara sang ibu ingin bertobat karena menyadari umurnya tidak lama lagi. Tapi Zek tidak merasa bahwa bisnis yang ia miliki sudah cukup. Ia justru tergiur dengan hal lain.

The Bridge Season 2 Review

The Bridge Season 2

Episode pertamanya sudah sangat kompleks. Sebenarnya kasus yang dihadapi oleh ICD alias badan yang menangani kasus kriminal di Asia Tenggara ini tak hanya narkoba dan pembunuhan. Kita akan melihat clue dari episode pertama seperti mafia, intrik bisnis, hingga kasus kekerasan seksual. Selain itu nampaknya akan ada office politic yang membuat kerja pada staff ICD ini terhambat. The Bridge Season 2 nampaknya ingin lebih berani lagi dengan menangkat tema yang lebih berat.

Dibanding season 1, season 2 akan menggambarkan lebih dalam seluk beluk dunia hitam di Asia. Tentu saja ada risiko dari hal ini. Bisa saja nantinya akan banyak plot hole atau dramanya terasa terlalu berat untuk dicerna penonton. Namun The Bridge sendiri memang memiliki kekuatan. Bila melihat season 1-nya kita bisa menyadari bahwa skenarionya cukup smooth. Walaupun karakter dalam serial ini dari berbagai negara, mereka digambarkan dengan baik.

Tiap karakter benar-benar menonjolkan keunikan negaranya sendiri. Menggunakan bahasa maupun dialeknya masing-masing serta menyindir perbedaan budaya antarnegara. Tidak ada negara yang lebih ditonjolkan ataupun dianaktirikan. Semua mendapat porsinya masing-masing untuk bersinar. Ini menarik karena pasti penulisan skenarionya sulit. Sang penulis harus berhati-hati agar tiap karakter terlihat otentik sesuai dengan asal negaranya dan tidak terlihat seperti orang yang tidak punya latar belakang.

Bahkan kita bisa melihat serial ini sengaja memilih nama karakter yang benar-benar menggambarkan asal usulnya. Misalnya karakter Indonesia bernama Heri dan Indah. Pada karakter Malaysia, orangtuanya dipanggil emak sementara sang suami yang dianggap punya posisi prestige memiliki gelar datuk. Kita juga akan melihat nama peranakan yang unik dan tidak kita dengar di film produksi Indonesia. The Bridge tak hanya menyajikan serial yang menegangkan tapi juga membuat kita mempelajari budaya masing-masing negara.

Harus diakui salah satu kesuksesan awal dari The Bridge adalah pemilihan aktor dan aktris yang tepat dalam memerankan masing-masing karakter. Bisa dibilang, hampir semua tokoh antagonis dalam serial ini memiliki akting gemilang. Mereka sangat menonjol dan mampu menunjukkan kharismanya masing-masing. Bukan hanya karena sebagian adalah aktor dan aktris kawakan yang telah puluhan tahun berkarir. Sebagian masih muda tapi berakting apik.

Sekali lagi The Bridge menunjukkan bahwa Asia Tenggara mampu memproduksi serial yang sangat keren. Selain ketegangan yang lebih intens dibanding season sebelumnya, ide ceritanya pun patut diacungi jempol. Serial ini akan sangat dinikmati oleh para pecinta genre crimes.

Itulah tadi informasi dari judi online mengenai The Bridge Season 2 Review oleh - filmnusantara.xyz dan sekianlah artikel dari kami filmnusantara.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Surat dari Praha Review: Drama Romantis Dengan Bumbu Sejarah oleh - filmnusantara.xyz

Halo sahabat selamat datang di website filmnusantara.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Surat dari Praha Review: Drama Romantis Dengan Bumbu Sejarah oleh - filmnusantara.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Surat dari Praha merupakan film karya sutradara Angga Dwimas Sasongko, dibintangi oleh Julie Estelle dan Tio Pakusadewo. Rilis pada tahun 2016 silam, film ini sempat masuk seleksi Academy Awards ke-89 untuk kategori Best Foreign Language Film mewakili Indonesia, meski sayangnya tidak lolos sebagai nominasi utama dalam ajang tersebut.

Film drama ini memiliki muatan sejarah yang dikemas dengan kisah romantis. Kisah berawal dari seorang wanita bernama Larasati. Di tengah proses perceraiannya dengan suami, Larasati harus memenuhi wasiat ibunya untuk mengirimkan surat ke sosok pria misterius di Praha.

Alur dan Perkembangan Cerita yang Cukup Cepat

Film drama serupa biasanya akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menarik perhatian penontonnya. Tanpa banyak basa-basi, babak pembuka dieksekusi cukup cepat untuk segera mempertemukan Larasati dengan Jaya di Praha.

Larasati sebagai pemeran utama langsung mendapatkan objektif yang jelas dan membuat kita ingin segera tahu apa misteri yang tersembunyi dari misinya mengirim surat ke Jaya, pria yang sama sekali tidak Ia kenal tersebut.

Surat dari Praha

Surat dari Praha

Sesampainya di Praha, awalnya rencana Larasati tidak berjalan semulus yang Ia bayangkan. Namun, meski sempat terpisah dengan Jaya, penulis naskah menyematkan plot yang akhirnya mengembalikan Larasati pada objektifnya. Pada titik ini, kita akan mulai di bawah menyaksikan perkembangan interaksi kedua karakter yang menjadi statement dari kisah ini.

Setelah melewati konflik utama antara Larasati dan Jaya, kita tidak akan ditinggalkan dengan kisah yang membosankan. Kita akan disuguhkan berbagai materi drama dan beberapa kisah sejarah tentang para mahasiswa Indonesia yang menjadi eksil pada masa pemerintahan Orde Baru.

Karena kemasan utama dari film ini adalah drama romantis, informasi sejarah yang disajikan dengan porsi yang tepat dan cukup memancing penonton untuk akhirnya mencari tahu sendiri tentang sejarah para eksil di tahun 1965.

Perkembangan Interaksi Antara Larasati dan Jaya yang Menarik

Larasati yang diperankan oleh Julie Estelle digambarkan sebagai wanita modern yang telah melewati banyak kekecewaan dalam hidupnya, hal ini membuatnya berhati keras dan tak pernah basa-basi dalam mengambil tindakan. Sementara Tio Pakusadewo berperan sebagai Jaya, pria yang tak kalah kerasnya dengan Larasati namun menyimpan sisi melankolis mendalam dalam hatinya.

Surat dari Praha

Surat dari Praha Review

Surat dari Praha akan lebih membawa penonton dalam sudut pandang Larasati, sementara Jaya adalah karakter yang menarik untuk kita pahami. Mungkin kita akan lebih pro pada Larasati dengan pemikiran yang lebih modern dan bebas.

Terkadang, generasi muda modern seperti kita selalu merasa superior, lebih open minded, tanpa mau mendengarkan penjelasan dari orang yang lebih berpengalaman. Namun, ketika keduanya hendak mendengarkan pemikiran sama satu sama lain, tak susah untuk memahami satu sama lain lepas dari perbedaan latar belakang dan generasi. Interaksi seperti ini ‘lah yang berhasil dieksekusi oleh Julie dan Tio dalam membawakan kedua karakter dalam film ini.

Jika ingin benar-benar menyimak setiap dialog antara Larasati dan Jaya, kita juga bisa mengeksplorasi perasaan dan pertimbangan Jaya yang tak terucap sekalipun. Mengapa ia memutuskan untuk tetap idealis meski harus mengorbankan cintanya.

Kita juga bisa membayangkan keputusan yang diambil oleh ibu Larasati dalam masa yang pelik dan kompleks tersebut. Lebih dari drama politik dan masalah krisi nasionalisme, Orde Baru juga menimbulkan berbagai masalah sentimentil bagi pihak-pihak tertentu.

Sudut Pandang Kisah Sejarah yang Lebih Personal Dieksekusi Dengan Tepat

Ada banyak film biografi dan perang yang diangkat dari kisah sejarah. Film memang merupakan salah satu media efektif untuk mengedukasi dan mengabadikan konten sejarah agar selalu diingat.

Berbeda dengan film-film bersejarah pada umumnya, Surat dari Praha ingin mengekspos sosok yang tidak terlalu diperhitungkan dalam sejarah Orde Baru. Padahal, dampak yang mereka rasakan juga tidak kalah besar dan berat. Bagaimana urusan hati dan perasaan juga bisa mempengaruhi kelanjutan hidup seseorang.

Angga Dwimas Sasongko sebagai sutradara terinspirasi dari kisah para eksil Orde Baru. Namun, Surat dari Praha sendiri merupakan naskah fiksi romantis yang Ia kembangkan sendiri. Tetap realistis dan natural, tak menutup kemungkinan ada seseorang di luar sana yang mengalami situasi seperti Jaya.

Ketika film bersejarah skala besar lebih fokus pada materi yang monumental, Surat dari Praha lebih mengeksplorasi dampak pada orang yang terkena dampaknya. Kisah Jaya merupakan salah satu sampel dari banyaknya para eksil lainnya.

Surat dari Praha merupakan salah satu film drama Indonesia terbaik yang patut kita tonton. Film ini sudah bisa kita tonton di Netflix.

Itulah tadi informasi mengenai Surat dari Praha Review: Drama Romantis Dengan Bumbu Sejarah oleh - filmnusantara.xyz dan sekianlah artikel dari kami filmnusantara.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Sunday, July 12, 2020

10 Rekomendasi Film Mind-Bending oleh - filmnusantara.xyz

Halo sahabat selamat datang di website filmnusantara.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar 10 Rekomendasi Film Mind-Bending oleh - filmnusantara.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Tenet merupakan salah satu film Christopher Nolan yang paling dinanti musim panas ini. Direncanakan rilis pada 17 Juli 2020, Warner Bros. memutuskan untuk menunda tanggal rilis menjadi 30 Juli karena pandemi COVID-19.

Melihat situasi yang tidak membaik juga, dilansir dari Variety, film ini harus mundur lagi tanggal rilisnya menjadi 2 Agustus mendatang. “Warner Bros. berkomitmen untuk membawakan ‘Tenet’ pada penonton di bioskop, pada layar lebar, ketika pihak penyelenggara siap dan kesehatan publik secara resmi menyatakan sudah waktunya”, ungkap perwakilan dari Warner Bros.

Tenet merupakan film suspense thriller yang dibintangi oleh John David Washington dan Robert Pattinson, dimana keduanya mendapatkan misi untuk menghentikan Perang Dunia III. Melalui trailernya, kita dapat melihat bahwa film ini juga mengandung plot mind-bending yang telah menjadi ciri khas film Christopher Nolan seperti Inception (2010). Daripada kecewa karena belum bisa ke bioskop dulu, berikut rekomendasi film mind-bending seperti “Tenet”.

Memento (2000)

Memento merupakan salah satu film terbaik dari sutradara Christopher Nolan yang patut ditonton. Cerita berpusat pada Leonard Shelby, yang memiliki kondisi amnesia setiap beberapa menit. Meski dengan keterbatasan memori, Ia berusaha memburu pembunuh istrinya melalui catatan dan tato sebagai pengingat.

Yang membuat film ini berbeda dari film suspense pada umumnya adalah teknik editing dan plot yang diacak oleh Nolan untuk “menantang” penonton menganalisa alur cerita yang sesungguhnya.

Predestination (2014)

Banyak dari film bertema mind-bending melibatkan perjalanan waktu untuk mengelabui penontonnya. Salah satunya adalah Predestination yang dibintangi oleh Ethan Hawke sebagai seorang agen rahasia yang kerap melakukan misi perjalanan waktu untuk mencegah tindak kriminal. Hingga akhirnya sebelum pensiun, Ia harus menjalankan misi yang tak hanya membawanya dalam perjalanan waktu, namun perjalanan untuk menemukan jati diri dan takdirnya.

12 Monkeys (1995)

12 Monkeys disutradarai oleh Terry Gillam dan dibintangi oleh Bruce Willis sebagai James Cole. Sebagai seorang tahanan penjara pada tahun 2035, Ia ditawarkan sebuah misi perjalanan ke masa lalu untuk mengingatkan orang tentang pandemi yang sedang melanda bumi di masa depan. Sebagai imbalannya, James akan menerima keringan hukuman.

Film ini mengandung plot perjalanan waktu yang cukup intense hingga membuat kita merasakan kelelahan yang dirasakan oleh James Cole sendiri. 12 Monkeys memiliki unsur fiksi ilmiah, psychological drama, dan latar negeri dystopian.

Coherence (2013)

Coherence merupakan film drama suspense dengan latar yang secara teknis hanya di satu tempat saja, namun ceritanya dijamin akan membuat penonton lelah berpikir. Delapan orang teman sedang mengadakan pesta malam yang hangat. Namun, ketika fenomena komet yang melewati bumi berlangsung, keanehan mulai terjadi dalam pesta mereka.

Coherence cocok buat yang menyukai film dengan konten alternative universe berantai. Film ini akan membuat paranoid dengan sebuah kemungkinan ada diri kita yang lain di alam semesta lainnya.

Mr. Nobody (2009)

Salah satu film mind-bending yang keterlaluan absurdnya adalah Mr. Nobody karya Jaco Van Dormael. Dibintangi oleh Jared Letto sebagai Nemo, manusia terakhir yang masih hidup hingga tahun 2092. Mendekati ajalnya, Nemo melakukan perjalanan refleksi diri tentang kehidupannya yang digambarkan dalam visual ala film fiksi ilmiah.

Meski sebetulnya Mr. Nobody secara garis sederhana merupakan film drama kehidupan. Kita akan dibawa ke berbagai alternatif kehidupan Nemo jika saja ia mengambil keputusan yang berbeda saat orang tuanya bercerai.

Shutter Island (2010)

Shutter Island merupakan film psychological suspense yang disutradarai oleh Martin Scorsese dan dibintangi oleh Leonardo DiCaprio, Ben Kingsley, dan Mark Ruffalo. Teddy Daniels bersama partner kerja barunya, Chuck Aule dikirim ke sebuah pulau dimana sebuah rumah sakit jiwa berdiri. Dalam misi tersebut, Teddy dan Chuck diminta untuk menangani kasus hilangnya seorang pasien.

Dengan unsur drama melankolis yang memilukan, Shutter Island selalu memiliki perspektif baru bagi kita setiap kali menonton film ini.

Cam (2018)

Lola alias Alice adalah seorang webgirl di sebuah website hiburan orang dewasa. Setelah melanggar aturan yang Ia buat sendiri, Alice harus berhadapan dengan sosok misterius yang mencuri akun webgirl-nya.

Cam merupakan salah satu Netflix Original Movie suspense thriller terbaik dengan alur cerita yang penuh misteri dan menegangkan. Tak hanya menampilkan kisah yang menarik untuk diikuti, visual dan sinematografi merah muda dan neon dalam film ini akan sangat menghibur mata.

Perfect Blue (1997)

Berikutnya merupakan film yang datang dari industri animasi Jepang, Perfect Blue karya animator Satoshi Kon. Kita akan dibawa dalam perjalanan mental Mima Kirigoe yang berjuang melalui transisi dari anggota idol grup bercitra manis, menuju aktris yang lebih dewasa.

Melalui teknik animasi dan editing yang tidak biasa khas Satoshi Kon, film animasi ini dijamin akan membuat kita sama pusingnya dengan Mima yang mengalami disorientasi ruang dan waktu. Perfect Blue merupakan film yang patut ditonton sekalipun bagi kita yang bukan penggemar hiburan animasi Jepang.

Pintu Terlarang (2009)

Pintu Terlarang merupakan film suspense thriller karya sutradara nyentrik Indonesia, Joko Anwar. Pada masanya, film ini kurang mendapatkan perhatian karena genre-nya yang jauh dari selera pasar yang masih marak dengan film genre romcom dan horror.

Dibintangi oleh Fachry Albar sebagai Gambir, pematung muda yang sukses dengan rahasia pada setiap patung buatannya. Hingga suatu hari Ia merasakan panggilan dari seorang anak kecil yang meminta tolong padanya.

Pintu Terlarang mungkin memiliki cerita yang cukup biasa jika dibandingkan dengan film bergenre serupa dari Hollywood. Namun, Joko Anwar bisa dibilang cukup ambisius dan berani membuat film ini untuk memberi dampak pada kelanjutan film di tanah air.

Modus Anomali (2012)

Masih dari sutradara Joko Anwar, Modus Anomali merupakan film thriller suspense yang dibintangi oleh Rio Dewanto. Seorang pria terbangun di hutan dengan ingatan terbatas, Ia bahkan tidak ingat namanya sendiri. Setelah memahami dirinya terpisah dari istri dan anak-anaknya, Ia pun berusaha menyelamatkan mereka dari sosok misterius yang meneror dirinya di setiap sudut hutan.

Meski tidak semantap Pintu Terlarang, Modus Anomali cukup menarik untuk ditonton karena memiliki cerita original dengan genre suspense yang masih jarang di Indonesia.

Pintu Terlarang dan Modus Anomali sudah bisa kita stream di Netflix. Disarankan untuk tidak mencari informasi terlalu banyak sebelum menonton film-film dengan cerita bersifat mind-bending. Kebanyakan dari film ini memiliki plot twist yang akan hilang keseruannya jika diketahui sebelum menonton.

Itulah tadi informasi mengenai 10 Rekomendasi Film Mind-Bending oleh - filmnusantara.xyz dan sekianlah artikel dari kami filmnusantara.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Wednesday, July 8, 2020

Raw Review: Coming of Age dan Kanibalisme oleh - filmnusantara.xyz

Halo sahabat selamat datang di website filmnusantara.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Raw Review: Coming of Age dan Kanibalisme oleh - filmnusantara.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Raw merupakan film karya sutradara Julia Ducournau yang rilis pada tahun 2016 silam. Dibintangi oleh Garance Marillier sebagai Justine, film ini merupakan penampilan debut bagi aktris muda tersebut.

Bercerita tentang Justine, remaja vegetarian yang memulai tahun pertamanya sebagai mahasiswa jurusan dokter hewan. Setelah memakan daging untuk pertama kalinya, Justine menyadari bahwa dirinya memiliki hasrat besar yang tersimpan dalam dirinya.

Sempat diputar dalam Toronto International Film Festival 2016, Raw membuat crew festival harus memanggil ambulan karena adanya penonton yang pingsan dalam midnight screening film ini.

raw movie

Raw (2016)

Dilansir dari Indiewire, ada beberapa penonton yang tampaknya tidak kuat dengan adegan kanibalisme dalam film drama horror asal Prancis ini. Film ini memang mengandung beberapa adegan yang bikin ngilu, namun secara keseluruhan, Raw sebetulnya tidak terlalu mengeksploitasi konten gore. Film drama ini ingin mengeksplorasi tema kanibalisme dengan perspektif yang baru.

Ketika Kanibalisme Merupakan Bagian Dari Kehidupan

Masih ingat sosok Sumanto? Sosok satu ini sempat menggemparkan masyarakat kita ketika kasusnya dimuat di berbagai media Indonesia pada tahun 2003 silam. Kisahnya pun sudah difilmkan oleh Christ Helwedery pada tahun 2004. Raw kurang lebih memiliki kisah yang sama, yaitu tentang kanibal yang hidup di tengah masyarakat. Tapi tenang saja, kalau film ini merupakan kisah fiksi yang naskahnya ditulis juga oleh Julia Ducournau.

Film tentang kanibal pada umumnya merupakan ajang eksploitasi konten sadis, gore, dan kekerasan. Biasanya karakter secara sengaja dibuat menakutkan dan secara sadar memburu manusia untuk memenuhi hasratnya. Berbeda dengan Raw, film ini memiliki penulisan naskah yang realistis dan tidak dilebih-lebihkan. Dimana Justine, gadis 16 tahun yang akhirnya masuk universitas dan tinggal di asrama.

Raw 2016

Raw (2016)

Seperti halnya anak remaja yang memulai hidup baru menuju kedewasaan, akan ada banyak hal baru yang ia eksplorasi. Mulai dari lingkaran perteman baru, hingga hal yang bersifat personal seperti menghadapi hawa nafsu terhadap lawan jenis. Tanpa Justine sadari, gejolak yang ia rasakan lebih dari sekadar keinginan untuk berhubungan intim, melainkan hasrat yang lebih besar lagi; untuk memakan daging manusia.

Perpaduan antara kisah coming of age dan kanibalisme dalam film ini menyatu dengan baik. Membuat kisah ini terasa realistis, original, dan menarik untuk disimak.

Adegan Gore yang Memiliki Esensi

Kita tak akan melihat Justine merobek daging manusia dengan mulutnya atau adegan darah yang berlebihan dalam film ini. Mungkin hanya ada dua atau tiga adegan kanibalisme yang cukup bikin penonton ngilu. Adegan-adegan tersebut pun hadir karena memiliki esensi dan berpengaruh besar pada perkembangan cerita. Secara mengerikan dihadirkan dengan ketenangan dan situasi yang tidak didramatisir, namun justru menimbulkan ketakutan baru bagi penonton.

Ada banyak penjelasan yang dijelaskan secara visual ketimbang melalui dialog dalam film ini. Setiap gelagat dan tindak tanduk Justine patut kita perhatikan dalam setiap adegan karena memiliki makna tersirat. Seperti puzzle yang harus kita satukan untuk menuju kesimpulan akhir.

Secara keseluruhan, Raw merupakan salah satu film terbaik yang patut kita tonton minimal sekali saja. Konten kanibalisme yang menjadi label pada film ini dibawakan dalam kemasan drama yang realistis dan bermakna, tak sekedar memenuhi hasrat kita akan konten gore.

Itulah tadi informasi mengenai Raw Review: Coming of Age dan Kanibalisme oleh - filmnusantara.xyz dan sekianlah artikel dari kami filmnusantara.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Friday, July 3, 2020